Artikel dan Berita Tentang Belitung

BelitungIsland.COM Article and News
Add to bookmarkAdded

Buang Jong, Tradisi Persembahan Kepada Penguasa Laut di Belitung

Asep Irwan Gunawan 8/03/2019

Buang Jong merupakan salah satu tradisi dan budaya di Belitung yang sudah populer. Bahkan begitu populernya tradisi budaya ini membuat pemerintah daerah setempat menjadikan Buang Jong ini sebagai festival yang digelar setiap satu tahun sekali. Dengan begitu positifnya sambutan pemerintah pada tradisi Buang Jong, maka akan sangat disayangkan bila Anda melewatkan gelaran budaya ini saat berkunjung ke Belitung. Namun sebelum benar-benar menyaksikan Buang Jong maka alangkah baiknya kita menelaah tradisi ini secara lengkap. Berikut ulasannya.

RIWAYAT BUANG JONG


Buang Jong di Tanjung Kelayang

Buang Jong ini riwayatnya adalah tradisi yang dulu dilakukan oleh Suku Sawang atau disebut Suku Laut. Suku Sawang sendiri merupakan suku asli di Belitung yang hidup di lautan karena memang kehidupanya tergantung pada hasil laut. Tapi menurut sebuah kisah, Suku Sawang ini dulunya adalah pendatang dari Kepulauan Riau. Pada saat musim angin Barat berhembus maka Suku Sawang akan ke laut untuk melakukan Buang Jong. Buang Jong ini yang dilakukan Suku Sawang ini berwujud larung laut dengan membawa jong (perahu kecil) dan beberapa sesaji. Tujuan Buang Jong yang dilakukan Suku Sawang bertujuan untuk menghormati dan simbol persembahan pada penguasa atau dewa laut.

WUJUD BUANG JONG


Tari Ancak Sebelum Buang Jong

Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa Buang Jong ini merupakan kegiatan larung laut dengan membuang Jong (perahu kecil) ke laut. Buang Jong secara asal usul kata terdiri dari dua kata yakni Buang yang berarti membuang dan Jong yang artinya perahu kecil. Jadi secara umum Buang Jong ini adalah kegiatan membuang perahu kecil ke tengah laut dalam konsep larung laut. Tapi dalam praktiknya, Buang Jong memang memiliki banyak kegiatan, dimana puncak aktivitasnya adalah membuang atau melarung perahu kecil ke laut.

TUJUAN BUANG JONG


Perahu Jong Simbol Sesaji

Buang Jong ini dilakukan dengan tujuan sebagai bentuk penghormatan dan persembahan kepada pengusaha laut. Selain itu Buang Jong ini dilakukan juga untuk meminta keselamatan dan perlindungan ketika melaut supaya terhindar dari bencana. Saat melakukan larung laut ini tetua atau pemimpin adat akan berdoa supaya saat melaut nantinya mereka bisa mendapatkan keberkahan dengan hasil laut yang banyak. Tidak hanya untuk mendapat perlindungan dan keberkahan saat melaut, namun Buang Jong ini juga dilakukan untuk menghormati para leluhur dan keluarga yang telah tiada.

PROSESI SEBELUM LARUNG LAUT


Perahu Jong Dibawa ke Laut

Prosesi puncak membuang perahu kecil ke laut ini dilakukan setelah beberapa aktivitas sebelumnya dilakukan. Prosesi Buang Jong secara keseluruhan memang sangat panjang. Bahkan secara keseluruhan prosesi Buang Jong memakan waktu selama 3 hari dan 3 malam. Salah satu prosesi awal sebelum larung laut dalam tradisi Buang Jong ini antara lain Berasik. Berasik ini adalah prosesi memanggil makhluk halus dan membaca doa yang dilakukan oleh pemuka adat Suku Sawang. Biasanya setelah Berasik ini dilakukan akan bertiup angin kencang dan juga ombak laut yang membesar.

Setelah prosesi Berasik, kemudian ada Tarian Ancak yang dilakukan oleh penari laki-laki di tengah hutan. Tarian ini sendiri dilakukan penarinya dengan cara menggoyang-goyangkan replika kerangka rumah yang nantinya akan dilarung ke empat penjuru mata angin. Tarian yang disertai suara gendang dan gong ini sendiri dilakukan dengan tujuan mengundang roh penguasa lautan. Nantinya diakhir tarian ini si penari akan kesurupan ketika memanjat tiang tinggi (jitun).


Jong Dilepaskan ke Laut

Setelah Tarian Ancak, prosesi Buang Jong dilanjutkan dengan Tari Sambang Tali yang merepresentasikan kehidupan nelayan di laut. Selanjutnya, ada ritual Numbak Duyung yang merupakan ritual mengikatkan tali pada sebuah tombak sambil membaca mantra. Berikutnya, prosesi dilanjutkan dengan memancing ikan dilaut, dimana ketika ikan yang didapatkan banyak maka mereka yang memancing dilarang mencuci tangannya di laut.

Dari prosesi Numbak Duyung dan memancing, Buang Jong dilanjutkan dengan jual-beli jong. Sesuai dengan namanya, jual-beli jong ini merupakan aktivitas transaksi jual-beli Suku Sawang dengan orang darat. Meski ada transaksi jual-beli, namun metode pembayaran pada prosesi ini tidak menggunakan uang, tapi pertukaran barang atau barter. Prosesi jual-beli jong sendiri tidak sekedar bermakna ekonomi, tapi di sana juga ada makna sosial yaitu kerukunan dan persahabatan antar orang darat dan orang Sawang. Bahkan dalam jual-beli jong ini orang Sawang dan orang darat membuat kesepakatan yang saling mendukung kehidupan satu sama lain. Maksudnya di sini adalah dalam kesepakatan, orang Sawang meminta orang darat tidak memusuhinya. Semantara orang darat juga meminta orang Sawang untuk selalu bisa memenuhi kebutuhan pangannya dengan hasil laut yang didapat. Setelah jual-beli jong, prosesi dilanjutkan dengan Beluncong yang berwujud kegiatan menyanyikan lagu-lagu khas Suku Sawang yang diiringan alat musik sederhana. Dan prosesi terakhir sebelum acara puncak Buang Jong yaitu Nyalui yang merupakan kegiatan menyanyi sembari mengenang arwah leluhur yang sudah meninggal.

PUNCAK KEGIATAN, BUANG JONG

Setelah acara Nyalui, prosesi Buang Jong pun mencapai puncaknya yakni Buang Jong. Buang Jong ini dilakukan di tengah laut dengan kegiatan melarung atau membuang jong (perahu kecil) ke lautan. Selain jong (perahu kecil), ada juga ancak atau rumah-rumahan dari bambu yang didalamnya diletakkan beberapa sesaji. Sesaji yang diletakkan dalam perahu dan ikut dilarung ke laut ini biasanya berwujud enam buah kelapa yang diikat jadi satu, empat buah lepat, dua sisir pisang serta sebatang lilin. Selepas kegiatan larung maka akan dilakukan badaek yang berwujud kegiatan balas pantun sebagai simbol rasa syukur atas prosesi Buang Jong yang lancar dari awal penyelenggaraan. Selepas acara puncak ini maka dalam tiga hari ke depan, masyarakat Suku Sawang dilarang melaut sebagai simbol mengistirahatkan laut.

FESTIVAL BUANG JONG

Karena begitu mendalamnya arti prosesi dari Buang Jong bagi masyarakat Belitung, membuat pemerintah daerah menjadikan Buang Jong sebagai event pariwisata. Event Buang Jong ini sendiri bisanya diadakan setiap bulan Februari di Pantai Mudong, Kabupaten Belitung Timur. Sementara itu selain di Pantai Mudong, Festival Buang Jong juga biasanya dilakukan di Pantai Tanjung Pendam, Kecamatan Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung setiap bulan November. Satu lagi tempat yang juga sering menggelar Buang Jong adalah Desa Selinsing, Kecamatan Gantung, Belitung Timur. Angin musim Barat yang selalu menjadi patokan dilakukannya kegiatan Buang Jong oleh suku Sawang ini sendiri memang bisanya muncul pada bulan Agustus – November. Jadi Anda jangan sampai lupa untuk melihat kalender ketika ingin berlibur ke Belitung dan menyaksikan Festival Buang Jong yang menarik ini.

Buang Jong memang merupakan tradisi yang patut untuk selalu dijaga dan dilestarikan. Pasalnya selain karena tradisi leluhur, Bung Jong ternyata juga sudah mendapat sertifikat WBTB (Warisan Budaya Tak Benda) dari Kemendikbud RI 2016. Karena telah menjadi event pariwisata yang resmi maka Buang Jong akan selalu ramai disaksikan masyarakat dan wisatawan. Ritual yang melegenda ini memang akan selalu menyita perhatian karena unik dan begitu mengesankan.


Comments


Tulis komentar artikel ini