Mengenal Parang Badau, Jenis Senjata Tradisioal Belitung yang Melegenda

Artikel dan Berita Tentang Belitung
Add to bookmarkAdded
Belitung Article #213
 
Asep Irwan Gunawan 11/01/2020

Negeri ini memang memiliki beberapa senjata tradisional yang layak diapresasi karena kekhasannya. Salah satu senjata tradisional di Belitung yang menarik untuk ditelusuri adalah Parang Badau. Sesuai dengan namanya Parang Badau ini merupakan alat dan senjata tajam yang memiliki riwayat panjang. Meski bentuknya sederhana tanpa pernak-pernih, senjata ini memang terbilang fenomenal, terutama bagi masyarakat Belitung.

KEKHASAN PARANG BADAU


http://www.belitungisland.com

Parang Badau dari Belitung ini memang berbeda dengan parang-parang di daerah lain. Kekhasan dari Parang Badau di Belitung ini adalah adanya bentuknya yang khas yakni tidak terlalu panjang dan melebar dibagian ujung. Dari bentuk yang seperti inilah maka Parang Badau ini mampu membuat tebasan yang bertenaga. Kemampuan ini sendiri dikarenakan berat bilah tertumpu dibagian ujung sehingga meski mengeluarkan tenaga sedikit pun, tebasan bisa dilakukan dengan efektif. Dari kemampuan ini pula maka bilah Parang Badau sangat cocok dan nyaman digunakan untuk "chopping".

PENGGUNAAN PARANG BADAU


http://www.belitungisland.com

Parang Badau sendiri berwujud senjata tajam yang dibuat dari besi. Senjata ini sendiri pada zaman kerajaan biasanya digunakan untuk bertempur dan mempertahankan diri dari serangan musuh. Tapi ketika tidak ada pertempuran, Parang Badau ini dipakai dalam kegiatan sehari-hari seperti memotong kayu atau juga membersihkan areal pertanian dan semak belukar saat memasuki hutan.

RIWAYAT PARANG BADAU


http://www.belitungisland.com

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa senjata khas Belitung ini memang memiliki riwayat yang panjang di masa lalu. Menurut Ian Sanchin yang merupakan pengamat sejarah Belitung, Parang Badau ini sudah digunakan sejak zaman kerajaan Badau pada abad ke-13. Saat itu kerajaan kecil tersebut dipimpin oleh seorang raja dengan gelar Ronggo udo. Ketika itu ada empu pandai besi dari Kerajaan Majapahit yang mengajarkan orang-orang di Badau membuat senjata. Senjata dari besi ini sendiri kemudian digunakan masyarakat untuk kegiatan berladang dan membuka kawasan pemukiman.

Keberadaan empu dari Majapahit di Belitung ini sendiri tertera dalam syair kartagama yang dikarang Empu Prapanca yang dikatakan bahwa pada tahun 1365 disebutkan adanya nama Belitung. Dari keahlian masyarakat badau dalam mengolah besi menjadi senjata ini kemudian didapati banyak sentra pengerajin Parang di Pulau Belitung hingga sekarang.

PARANG BADAU DI BELANDA

Ada salah satu Parang Badau di Belanda yang menarik untuk ditelusuri. Ini karena Parang Belitung yang ada di Belanda tersebut memiliki perbedaan bentuk bilah dengan Parang Badau lainnya. Jadi Parang Belitung di Belanda ini memiliki perbedaaan pada bagian hulunya yang memiliki panjang bilah 42 sentimeter dengan lebar 2,8 - 5 sentimeter. Parang yang diketahui terbat dari besi, rotan, dan kayu ini memiliki panjang gagang 16 cm dan lebar 3 cm. Sayangnya Parang Badau di Belanda ini tidak diketahui tahun pembuatannya.

PENGRAJIN PARANG BADAU DI BELITUNG

Salah satu pengrajin Parang Badau di Belitung adalah Masri yang telah berusia 50 tahun. Keahlian menempa besi dari Masri sendiri diperoleh dari orangtuanya yang juga seorang penempa besi. Dalam bekerja sehari-hari, Masri dibantu oleh istrinya yang memompa angin. Dalam satu minggu, Masri bisa menghasilkan 10 senjata parang yang dijual dengan harga Rp 50 ribu per-buah. Yang membeli senjata parang buatan Masri sendiri adalah para pelanggannya yang membuka toko pertanian dan juga masyarakat yang berprofesi sebagai petani. Untuk bahan baku yang digunakan Masri adalah besi bekas shock breker mobil. Bahan baku ini dibeli Masri dengan harga Rp 8 ribu per-kilo. Namun sayangnya Masri mengakui bahwa bahan baku Parang Badau ini sekarang sulit didadapati.

Dengan semakin kompetitifnya persaingan usaha, para pengrajin Parang Badau ini berharap bahwa ada dukungan dari pemerintah. Tidak hanya dukungan berupa pembinaan, tapi bantuan berpupa pinjaman modal pun sangat diharapkan para pengrajin yang termasuk Usaha Kecil Menengah (UKM). Para pengrajin Parang Badau ini juga berharap agar benda yang dibuatnya ini bisa dipasarkan hingga ke luar Bangka-Belitung. Karena Belitung yang pariwisatanya terus berkembang, diharapkan Parang Badau ini juga bisa menjadi souvenir khas Pulau Belitung yang diminati para wisatawan.


Comments


Tulis komentar artikel ini