Melihat Harmonisasi Budaya Tionghoa di Bangka Belitung

Artikel dan Berita Tentang Belitung
Add to bookmarkAdded
Belitung Article #219
 
Asep Irwan Gunawan 13/02/2020

Bicara keberadaan orang-orang China atau Tionghoa di Bangka-Belitung memang terbilang sudah mengakar. Sebab mereka bukan satu atau dua hari mendiami kepualuan ini. Tapi orang-orang Tionghoa ini sudah ada sejak lama yakni sejak tahun tahun 1700 hingga1800-an. Gelombang pertama etnis Tionghoa yang datang ke Belitung sendiri adalah orang Hakka dari Provinsi Guangdong. Orang Hakka ini memang pada akhirnya mendominasi keberadaan orang Tionghoa di Belitung dibanding orang Minnan (Hokkian) yang jadi minoritas. Mereka orang-orang Tionghoa saat itu datang ke Belitung untuk bekerja sebagai tenaga penambang timah. Setidaknya sekarang ada lebih dari 30% populasi orang Tionghoa yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

CHINA TOWN DAN KEHIDUPANNYA

foto #0 http://www.belitungisland.com
http://www.belitungisland.com

Dari keberadaan orang-orang Tionghoa di Belitung inilah kemudian menciptakan harmoniasi budaya yang bisa kita saksikan hingga sekarang. Bahkan beberapa harmonisasi budaya Tionghoa dan lokal ini ada yang menjadi daya tarik wisatawan. Salah satu wujud harmonisasi kedua budaya yang akhirnya menjadi tujuan wisata para pelancong di Belitung adalah kampung China atau China town.

Di Kampung China ini kita akan bisa mendapati kehidupan orang-orang Tionghoa dalam kesehariannya. Di sini kita akan bisa mendapati beberapa rumah yang di depannya dibangun tempat ibadah khusus. Di tempat inilah mereka setiap hari berdoa sambil membakar hio atau dupa serta meletakkan buah-buahan. Nuansa budaya Tionghoa di China Town ini akan semakin terasa saat tiba hari besar Konghucu seperti Imlek, Ceng Beng hingga ritual Peh Cun. Dalam hari-hari besar tersebut, orang-orang Tionghoa di Bangka-Belitung ini secara rutin akan merayakannya dengan meriah.

foto #1 http://www.belitungisland.com
http://www.belitungisland.com

NAMA-NAMA TIONGHOA DI BANGKA-BELITUNG

Keharmonisan budaya Tionghoa dan lokal di Belitung ini juga terlihat dari nama-nama daerh dan makanan setempat yang memiliki dua asal bahasa yakni bahasa Melayu dan China. Sebut saja seperti nama Thew Fu Sui, atau Thew Fu Fa alias kembang tahu yang merupakan nama kudapan susu kedelai terkenal di Bangka-Belitung. Selain nama kuliner, ada juga nama daerah yang terpengaruh oleh bahasa China dan lokal seperti Yung Fo Hin yang berarti Kelurahan Semabung atau Naisifuk yang merupakan nama lain dari Kampung Bintang. Menariknya penggunaan nama-nama China ini tidak hanya dipakai oleh orang-orang Tiongkok, tapi juga dipakai oleh orang-orang lokal.

foto #2

HIDUP BERDAMPINGAN DENGAN DAMAI

Walau memiliki karakter yang berbeda, namun kedua budaya Tionghoa dan lokal di Bangka-Belitung ini tetap bisa hidup berdampingan dengan damai dalam waktu yang lama. Dalam hal ibadah, orang-orang yang berbeda budaya ini tetap bisa tetap bisa saling menghargai privasi masing-masing. Orang-orang Tionghoa yang gemar makan daging babi, mereka juga memahami kepercayaan warga lokal yang tidak boleh memakannya karena haram. Dari sinilah kemudian orang-orang Tionghoa ini kemudian membuat pasar sendiri untuk menghormati keyakinan orang lokal tersebut.

PASAR KAGET KAMPUNG BINTANG

Pasar khusus yang menjual daging babi ini dihadirkan orang-orang Tionghoa di kawasan Pasar kaget Kampung Bintang, Pangkal Pinang. Di sana mereka mulai berjualan dari pukul 06.00 hingga 07.30 pagi hari. Untuk berjualan, mereka ada yang memiliki kios dan ada pula yang menggunakan kendaraan dengan bak terbuka sebagai tempat berjualan. Tidak hanya daging babi, tapi beberapa keperluan sehari-hari seperti sayur-mayur, hasil laut, jajanan pasar, makanan khas Bangka dan lainya juga dijualbelikan di Pasar kaget Kampung Bintang tersebut. Keberadaan Pasar kaget Kampung Bintang sendiri pada awalnya sangat ramai pembeli. Tapi pada tahun 2005 ketika Pemkot Pangkalpinang memindahkan pasar ke lokasi lain yang jaraknya tidak terlalu jauh, pendapatan mereka menurun. Meski demikian mereka para pedagang Pasar kaget Kampung Bintang ini memilih untuk tetap bertahan dengan berjualan.

BUDAYA BANGKA-BELITUNG YANG MENDORONG SEKTOR PARIWISATA

Dari kekayaan budaya yang dimiliki oleh Bangka-Belitung ini ternyata membawa pengaruh positif bagi sektor pariwisata Provinsi tersebut. Menurut beberapa pakar pariwisata menyatakan bahwa Provinsi Bangka-Belitung memiliki pariwisata yang mirip dengan Bali. Hal ini dikarenakan Bangka-Belitung yang memiliki keindahan alam pantai yang indah serta budaya yang kaya dan kental. Hal menarik lain yang bisa didapati di Provinsi Bangka Belitung dan menjadi aset pariwisata adalah kompleks Pemakaman Sentosa atau Tjung Hoa Kung Mu Yen yang merupakan kompleks pemakaman China terbesar di Asia Tenggara. Kompleks Pemakaman Sentosa atau Tjung Hoa Kung Mu Yen ini sendiri bisa dijumpai di Pangkalpinang yang berada di kawasan kampung Cina.


Comments


Tulis komentar artikel ini