Mengenal Tradisi Maras Taun yang Melegenda di Belitung

Artikel dan Berita Tentang Belitung
Add to bookmarkAdded
Belitung Article #181
 
 Asep Irwan Gunawan  5/02/2019
Location: Pulau Belitung VIEW 27287 LIKE 174

Kekayaaan budaya di Pulau Belitung memang tak bisa lagi disangkal keberadaannya. Meski saat ini telah terhimpit oleh unsur-unsur modernisasi, namun beberapa budaya masih dilestarikan dan dapat kita saksikan sampai sekarang. Salah satu budaya khas di Belitung yang melegenda dan menarik untuk kita telusuri yakni Tradisi Maras Taun. Maras Taun sendiri berasal dari dua kata yakni “Maras” yang berarti memendekkan atau memotong dan “Taun” yang berarti tahun. Maras Tahun sendiri digelar untuk memperingati agenda satu tahunan pesta rakyat yakni merayakan masa penen raya.

AWAL MULA MUNCULNYA TRADISI MARAS TAUN

foto #0

Munculnya tradisi Maras Taun (Maras Taon) ini bermula dari masyarakat Desa Selat Nasik, Pulau Mendanau, Kabupaten Belitung. Masyarakat Desa Selat Nasik yang berprofesi sebagai petani ini setiap tahunnya memperingati hari panen padi ladang. Padi ladang sendiri memang berbeda dengan padi-padai lainnya karena hanya bisa dipanen setelah 9 bulan masa tanam. Dari sini maka perayaan panen padi ladang dilakukan masyarakat Desa Selat Nasik setiap satu tahun sekali.

PERKEMBANGAN TRADISI MARAS TAUN

foto #1

Dalam perkembangannya, peringatan masa panen padi ladang di masyarakat Desa Selat Nasik ini meluas menjadi peringatan ungkapan syukur semua penduduk Pulau Mendanau. Pelakunya juga bukan hanya petani saja, tapi juga seluruh profesi seperti nelayan dan lainnya. Jadi nelayan juga ikut merayakan peringatan ungkapan rasa syukur ini setelah musim penangkapan ikan tenggiri yang disertai keadaan laut yang tenang. Tidak hanya pada masyarakat Pulau Mendanau saja, tapi tradisi Maras Taun ini kemudian meluas lagi perkembangannya pada masyarakat seluruh Pulau Belitung. Dari sinilah kemudian Maras Taun menjadi tradisi dan budaya masyarakat Belitung.

RANGKAIAN ACARA TRADISI MARAS TAUN

foto #2

Dalam tradisi Maras Taun ini ada serangkaian acara yang akan digelar. Bahkan begitu banyaknya acara dalam Maras Taun, membuat tradisi ini harus dilaksanakan selama tiga hari. Nantinya dihari ketiga atau hari terakhir akan ada puncak perayaan Maras Taun yang ditunggu-tunggu masyarakat. Pada hari pertama dan kedua, Maras Taun akan ada beberapa pertunjukan kesenian yang digelar. Kesenian yang dipertunjukkan ini sendiri kebanyakan berasal dari Desa Selat Nasik yang merupakan tempat awal mula munculnya tradisi Maras Taun. Beberapa kesenian yang dipertunjukkan pada hari pertama dan kedua Maras Taun ini antara lain Stambul Fajar, Teater Dulmuluk, Tari Piring khas Minang, dan lainnya. Tidak ketinggalan juga ada pentas musik organ tunggal yang dihadirkan untuk semakin memeriahkan tradisi Maras Taun.

Sebelum puncak Maras Taun ini digelar dihari ketiga, masyarakat akan menyiapkan berbagai hal seperti tepung tawar, garu/dupa, dan juga air. Tidak lupa juga sebelum puncak ritual diselenggarakan, akan ada prosesi pembersihan kampung yang dipimpin oleh dukun kampong. Ritual pembersihan kampung sendiri dilakukan dengan menggunakan daun neruse dan air.

foto #3

PUNCAK PERAYAAN MARAS TAUN

Pada hari ketiga, perayaan Maras Taun mencapai puncaknya. Pada puncak perayaannya ini, juga digelar beberapa acara seperti pertunjukkan Tari Tumbuk Lesung dan lagu Maras Taun. Tari Tumbuk Lesung dan lagu Maras Taun ini sendiri dibawakan oleh 12 gadis remaja dengan menggunakan kebaya khas petani perempuan beserta topi capingnya. Tarian yang dibawakan sendiri menggambarkan petani yang bekerja menggarap dan memanen sawah. Sembari menari, para 12 gadis remaja ini juga menyanyikan lagu dengan lirik yang menyiratkan rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh.

foto #4

Setelah tarian dan lagu Maras Taun ini dipentaskan, maka acara puncak dilanjutkan dengan kesalan. Dalam kesalan ini digelar lantunan doa syukur atas panen yang telah diperoleh. Dalam kesalan juga dilantunkan doa untuk permohonan keberkahan untuk panen di tahun depan. Lantunan doa dalam kesalan sendiri dipimpin oleh 2 orang tetua adat. Nantinya setelah doa dipanjatkan maka tetua adat akan menyiramkan air yang telah dicampur dengan daun Nereuse dan Ati-ati. Ritual penyiraman ini dilakukan sebagai simbol membuang kesialan bagi warga desa. Secara umum, puncak ritual Maras Taun ini terdiri dari beberapa rangkaian acara yakni doa awal, tepong taw Belitung dan doa penutup.

BEREBUT LEPAT

foto #5

Setelah pembacaan doa dan ritual penyiraman maka kemudian dilanjutkan dengan acara berebut lepat. Lepat sendiri adalah makanan yang dibuat dari beras ladang dengan warna merah dengan isian daging cingcang atau potongan ikan. Nantinya lepat-lepat berukuran kecil yang dibuat dengan jumlah ribuan ini akan dibagi kepada warga masyarakat. Nah saat lepat kecil dibagi, masyarakat akan berebut untuk mengambilnya. Acara berebut lepat sendiri menjadi simbol kebahagiaan dan kegembiaraan masyarakat atas hasil panen yang diperoleh.

PEMOTONGAN LEPAT BESAR

foto #6

Selain lepat kecil, dalam puncak acara Maras Taun ini kita juga akan menjumpai lepat berukuran besar dengan berat sekitar 25 kg. Jadi sebelum lepat kecil dibagikan kepada warga maka terlebih dahulu akan dilakukan pemotongan lepat besar oleh pemimpin setempat ataupun tamu kehormatan. Setelah dipotong-potong, lepat besar kemudian akan dibagi-bagikan kepada warga. Pemotongan dan pembagian lepat besar ini sendiri juga memiliki makna yaitu pemimpin yang selalu melayani rakyatnya.

MAKNA MARAS TAUN

Dari hakikat namanya, maka akan didapatkan makna dari tradisi Maras Taun yakni masyarakat yang meninggalkan tahun lalu dengan ucapan penuh rasa syukur dan juga permohonan agar di tahun depan banyak hal baik yang diperoleh. Meski Maras Taun ini sudah menjadi budaya seluruh Belitung, tapi perayaan rutin setiap tahunnya hanya diagendakan di Desa Selat Nasik yang memang merupakan tempat pertama kali munculnya tradisi Maras Taun.

DUKUNGAN PEMERINTAH DAERAH UNTUK MARAS TAUN

Perayaan rutin Maras Taun di Desa Selat Nasik sendiri telah ditetapkan sebagai agenda wisata dan juga telah mendapat dukungan pemerintah Provinsi Bangka Belitung. Menurut Wakil Gubernur Bangka-Belitung yakni Syamsudin, Maras Taun setiap tahunnya akan didukung oleh pemerintah daerah dengan dana yang cukup besar. Bahkan menurutnya Pemerintah Daerah akan berusaha mempromosikan gelaran Maras Taun ini sebagai agenda pariwisata menjelang Visit Babel Archi 2010. Lebih dari itu lanjut Syamsuddin, dirinya juga berusaha suatu saat nanti Maras Taun ini bisa dikenal di kancah nasional. Kesungguhan Syamsudin untuk menaikkan pamor Maras Taun ini sendiri didasari atas perhatian dirinya akan tradisi dan budaya lokal. Menurutnya tradisi dan budaya lokal memang sudah seharusnya untuk selalu dipertahankan, dijaga dan juga dijadikan kebanggaan.

ANTUSIASME PENONTON

Tidak hanya mendapat sambutan dari pejabat daerah, tapi Maras Taun ini juga mendapat sambutan yang antusias dari masyarakat. Bahkan walau diselenggarakan di Desa Selat Nasik, agenda Maras Taun ini juga didatangi oleh beberapa masyarakat dari Tanjung Pandan. Dan pastinya juga tidak ketinggalan beberapa wisatawan baik lokal dan mancanegara terlihat antusias menyaksikan Maras Taun yang digelar di Selat Nasik. Dengan antusiasme dari penonton ini sebenarnya sudah terlihat bagaimana besarnya potensi dari Maras Taun bila dijadikan agenda wisata Belitung.

Tags: #ecns2007, #estudisprecolombins, #grupoalvorada


Komentar