Lesong Panjang, Tradisi Masyarakat Belitung Setelah Penen

Artikel dan Berita Tentang Belitung
Add to bookmarkAdded
Belitung Article #215
 
Asep Irwan Gunawan 29/01/2020

Masyarakat Belitung memang memiliki beberapa tradisi unik dan menarik untuk ditelusuri. Salah satu tradisi unik dan menarik untuk ditelusuri tersebut adalah Lesong Panjang. Lesong Panjang memang sudah menjai tradisi masyarakat Belitung karena sudah sejak lama dilakukan. Meski tradisi ini mirip dengan yang ada di daerah-daerah lain, namun Lesong Panjang di Belitug memiliki ciri khas dan karakter tersendiri yang membedakan dengan lainnya.

NAMA LESONG PANJANG

foto #0 http://www.belitungisland.com
http://www.belitungisland.com

Nama Lesong Panjang sendiri diambil dari sebuah alat yang digunakan dalam pagelarannya. Alat pertama adalah lesong atau lesung yang merupakan alat atau tempat dimana padi berada nantinya. Selain itu lesong sendiri akan menjadi benda yang akan dipukul oleh alu untuk menumbuk padi. Lesung atau lesong ini sendiri haruslah dibuat dari kayu pilihan dengan tujuan agar bisa menghasilkan suara yang keras dan jernih ketika dipukul. Untuk ukuran lesung ini yaitu panjang 1 – 1,5 meter dan diameter antara 25 cm hingga 30 cm. Dari panjangnya lesong atau lesung inilah kemudian membuatnya dinamakan Lesong Panjang untuk tradisi yang dilakukan.

Sementara itu alat kedua yang digunakan dalam tradisi Lesong Panjang ini adalah alu. Alu sendiri berfungsi sebagai alat untuk memukul lesung sekaligus menumbuk padi. Untuk alu ini bisa dibuat dengan beragam model dan ukuran. Namun umumnya ukuran alu ini adalah berdiameter 4 - 6 cm dan panjang 75 cm hingga 120 cm.

foto #1 http://www.belitungisland.com
http://www.belitungisland.com

PUKULAN ALU KE LESONG

Saat alu dipukulkan ke lesong akan muncul bunyi-bunyian yang menarik karena memiliki irama tertentu. Apalagi melihat bahwa tradisi ini yang dilakukan oleh beberapa orang, maka iramanya memang akan terdengar sangat bervariasi. Bunyi dari pukulan alu ke lesong sendiri akan saling bersaut-sautan secara bergantian sehingga muncul harmoni yang menarik. Sementara itu jenis irama yang muncul dari pukulan alu ke lesong sendiri tergantung dari jenis ketukannya. Bunyi dan irama yang muncul dari pukulan alu ke lesong sendiri tidak sekedar untuk meramaikan suasana. Tapi ketukan dan bunyi tersebut memiliki makna bahwa segala sesuatu yang dikerjakan bersama-sama atau dengan gotong royong maka akan menghasilkan sebuah hal yang baik dan sesuai harapan.

foto #2

PERWUJUDAN RASA SYUKUR ATAS PANEN BERLIMPAH

Lesong Panjang sendiri biasanya dilakukan selepas musim panen. Tujuan dilakukannya Lesong Panjang selepas panen sendiri adalah sebagai perwujudan rasa pada Tuhan Yang Maha Esa atas penen yang berhasil dan berlimpah. Dalam tradisi Lesong Panjang tersebut tidak hanya ada kegiatan memukul lesung saja. Tapi sembari memukul lesung, para pemainnya juga akan bernyanyi. Nyanyian yang dihadirkan dalam Lesong Panjang sendiri bukan sekedar lagu biasa saja, namun nyanyian tersebut merupakan puji-pujian pada Tuhan Yang Maha Kuasa.

PEMAIN LESONG PANJANG

Dalam menjalankan Lesong Panjang ini memang ada kita dapati beberapa orang yang melakukannya. Menurut tetua dan toko budaya Belitung menyatakan bahwa pemain Lesong Panjang ini biasanya adalah empat orang wanita. Nah nantinya beberapa orang yang melakukan Lesong Panjang ini akan melakukan gerakan yang berbeda-beda dalam memukul alu ke lesong hingga didapati bunyi-bunyian dengan irama menarik. Gerakan yang dilakukan oleh para pemain Lesong Panjang ini sendiri memiliki makna adanya saling keterkaitan dan ketergantungan dalam kehidupan bermasyarakat antara satu dengan yang lain. Dari makna inilah maka Lesong Panjang diharapkan bisa menciptakan silaturahmi yang kuat dan kehidupan sosial yang saling mendukung.

AKTIVITAS SEHARI-HARI SAMBIL MENJALANKAN KEGIATAN LAIN

Menurut seorang tokoh budaya Selat Nasik bernama Bahani, Lesong Panjang dengan kegiatan menumbuk padi ini merupakan bagian yang tak bisa dilewatkan begitu saja dalam prosesi panen padi. Meski terlihat mudah, namun dalam pelaksanaannya, gelaran Lesong Panjang ini tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang. Sebab, menurut Bahani hanya wanita-wanita dengan keahlian dan kelihaian tangan dalam menumbuk padi serta mengganti alu yang bida melakukannya.

Menurut Bahani dulu kegiatan menumbuk padi menggunakan lesong ini merupakan aktivitas sehari-hari masyarakat Belitung. Bahkan begitu terbiasanya masyarakat Belitung, terutama ibu-ibu dalam kegiatan ini, membuat mereka melakukannya sambil melakukan kegiatan lain.

"Sambil ibu-ibu menumbuk padi, ada kagiatan lain yang dilakukan, seperti begading, begasing, bahkan ada yang besilat," kata Bahani.

PERKEMBANGAN LESONG PANJANG

Dalam perkembangannya, kegiatan menumbuk padi dan tradisi Lesong Panjang ini memang sudah jarang yang melakukannya. Namun dalam usaha pelestariannya, tradisi Lesong Panjang tetap digelar terutama pada acara-acara atau gelaran yang dilakukan oleh pemprov Belitung seperti pada rangkaian puncak Maras Taun di Selat Nasik. Lesong Panjang sendiri sekarang telah terdaftar di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia yang telah ditetapkan sejak tahun 2012 dengan nomor registrasi 2012002123.


Comments


Tulis komentar artikel ini